
Penulis: Chusnul Munawaroh – ISBN: dalam proses – Tebal: 114 + viii hal
Pendidikan bukanlah sekadar proses transfer ilmu pengetahuan di dalam ruang kelas, melainkan sebuah panggilan jiwa dan jalan pengabdian paling mulia demi membentengi moral generasi penerus bangsa. Keyakinan mendalam inilah yang memercikkan sebuah mimpi besar di hati seorang pemerhati pendidikan, Bapak Parlaungan Nasution Bersama istrinya, Ibu Lasiyam.
Buku ini merajut kisah nyata sebuah perjuangan yang bermula dari ruang dialog keilmuan yang hangat di kawasan Berbek Dalem. Melalui jalinan silaturahmi yang erat antara Bapak Parlaungan bersama para sahabatnya, antara lain Bapak Abdul Wachid Soejoso, Bapak Ahmad Yazid Pramuko, serta para sahabat lainnya, maka permasalahan bangsa ini bisa diselesaikan salah satunya melalui pendidikan.
Gagasan mulia ini kemudian mengalir ke dalam lingkungan Pondok Pesantren Al Mubarok, dengan Bapak KH. Mas Abdullah Siraj sebagai pengasuh pondok. Kala itu komunitas intelektual ini beraktivitas dalam kajian Islam yang rutin dihidupkan dalam Pondok Pesantren Al Mubarok. Di sinilah sebuah ide besar mulai menjelma menjadi gerakan nyata. Bapak KH. Mas Abdullah Siraj dan lain-lain, yang menyambutnya dengan tangan terbuka sebagai benteng moral keislaman demi membentengi generasi muda dari pengaruh negatif zaman.
Namun sebelum impiannya terwujud, Bapak Parlaungan Nasution menghembuskan nafas terakhirnya. Meski di tengah perjalanan sang pencetus ide, Bapak Parlaungan Nasution, harus berpulang ke hadirat Allah SWT , mimpi yang terlanjur menyala tidak ikut terkubur. Lewat keteguhan Ibu Lasiyam, putra-putri beliau, serta para sahabat aktivis yang menolak menyerah, pondasi demi pondasi terus dibangun di atas cucuran keringat dan untaian doa.
Dari rahim gotong royong dan keikhlasan kolektif itulah, Sekolah Menengah Islam Parlaungan akhirnya resmi berdiri tegak berdiri sebagai monumen abadi sebuah pengabdian. Dukungan spiritual dari para ulama Berbek Dalem tersebut menemukan motor penggeraknya lewat aksi nyata di lapangan. Bapak Muslimin Nasution bersama putra-putri Bapak Parlaungan yang lain, bergandengan tangan dengan Bapak Mas Ghufron, selaku aktivis pemuda masjid Al Mubarok bersama para aktivis lainnya. Para elemen ini bahu-membahu menghidupkan dinamika diskusi, menyatukan pemikiran lintas latar belakang, hingga meluluhkan hati masyarakat sekitar untuk bersama-sama mendirikan sebuah lembaga pendidikan.
Sebuah catatan sejarah yang sarat akan keteladanan, pengorbanan, dan nilai-nilai perjuangan yang mengingatkan kita semua bahwa warisan sejati manusia adalah ilmu yang bermanfaat dan pengabdian yang tak pernah padam bagi sesama.
Pembelian atau akses buku melalui Google Play Store (Google Books), klik: di Sini.
